| PRESENTASI buku "Togog Madeg Pandhita" |
|
|
|
| Monday, 12 October 2009 | |
Wahyu Tritunggal digugat. Jagad Punakawan "gonjang-ganjing", namun para ksatria pinandhita itu hanya riak kecil eksoterisme di tengah2 lautan luas spiritualitas tanpa batas. "Karena kamu tak mampu membedakan satu Allah dan satu batu", tegas Kyai Semar. Tragedi ini berawal dari "Togog Madeg Pandhita" dan mendirikan Padhepokan APUSI (Asosiasi Pendeta Unitarian se-Indonesia). Namun berkat "daya linuwih" Kyai Semar, goro2 kaum penghujat keilahian Sang Kristus itu reda. Hadirilah PRESENTASI buku "Togog Madeg Pandhita" bersama penulisnya: K.P. Sena Adiningrat, Selasa, 13 Oktober 2009, di Gedung Keuskupan Katolik Jl. W.R. Supratman 4, Surabaya Jam 19.00-Selesai. Buku ini mendapat tanggapan luas dari para intelektual nasional, penerjemah Alkitab, bahkan pemikiran2 KP, Sena Adiningrat direspon positip di jagad pemikiran internasional, antara lain Prof. Karel A. Streenbrink (Islamolog dari Universitas Utrech Belanda). Pasti seru, kocak dan santai, namun tetap serius dan saintific.
|




Wahyu Tritunggal digugat. Jagad Punakawan "gonjang-ganjing", namun para ksatria pinandhita itu hanya riak kecil eksoterisme di tengah2 lautan luas spiritualitas tanpa batas. "Karena kamu tak mampu membedakan satu Allah dan satu batu", tegas Kyai Semar. Tragedi ini berawal dari "Togog Madeg Pandhita" dan mendirikan Padhepokan APUSI (Asosiasi Pendeta Unitarian se-Indonesia). Namun berkat "daya linuwih" Kyai Semar, goro2 kaum penghujat keilahian Sang Kristus itu reda.