Menu Content/Inhalt
Home arrow News arrow Dialog Agama arrow Sekali Lagi, Soal YHWH dan Allah: Sebuah Tanggapan Part 2

5 Newest Users

VZwilhemina(VZwilhemina)
(2010-09-07 21:06:18)
Andre Akijuwen Jr(andreakijuwenjr)
(2010-09-05 18:58:41)
teatactuago(teatactuago)
(2010-09-05 11:46:37)

Who's Online

We have 21 guests online

Visitors Counter

164451 Visitors
Sekali Lagi, Soal YHWH dan Allah: Sebuah Tanggapan Part 2 PDF Print E-mail
Tuesday, 28 August 2007

5. Soal Bahasa Ibrani, Aram dan Yunani 
 

ImageMembaca beberapa argumentasi penanggap, saya menyimpulkan mereka tampaknya tidak paham perbedaan bahasa Ibrani dan Aram. Hal ini terbukti dari ungkapan salah seorang penanggap, bahwa dari surga Yeshua memilih berbahasa Ibrani, dan bukan Aramaik apalagi Yunani. Tetapi seperti sudah saya kutip di atas, ia menulis pula bahwa percakapan Perjanjian Baru didominasi bahasa Ibrani Aramaik. Untuk para pembaca, saya ingin memberikan gambaran singkat mengenai kedudukan ketiga bahasa itu pada zaman Yesus.

                Salah satu keunikan Injil adalah pewartaan Yesus mula-mula di tengah dunia yang multi etnik dan multilingual di Galilea pada abad pertama Masehi. Dalam Yesaya 8:22 dinubuatkan daerah pelayanan Sang Mesiah:  derek hayyam ‘aver hayyarden gelil haggoyim  (jalan ke laut, daerah seberang Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa). Latarbelakang ini sangat mempengaruhi corak keagamaan Kristiani sejak semula. Beberapa ahli menyimpulkan, bahwa Yesus dan penduduk Galilea khususnya dan Israel pada umumnya berbicara dalam bahasa Ibrani, Aram dan sedikit Yunani.

 
                Pertama, mengenai bahasa Ibrani dan Aram sebagai dua bahasa serumpun. Kedua bahasa ini erat bertalian, banyak kata dalam kedua bahasa ini sama. Tata bahasa dan sintaksisnya juga sama. Pada zaman Abraham (kira-kira 1900 sebelum Masehi) kedua bahasa itu dapat dikatakan identik, artinya belum terpecah satu sama lain. Dalam sebuah liturgi Yahudi kuno, disebutkan mengenai Abraham: Arami obed Avi, “Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara (Ulangan 26:5). Tetapi berabad-abad kemudian (kira-kira 1100-722 sebelum Masehi) dari bahasa yang satu itu melahirkan dua cabang bahasa: Ibrani di kalangan orang Yahudi di Palestina dan bahasa Aram di kerajaan-kerajaan Aram di Mesopotamia: Damaskus, Zobah dan Hamat. Bahasa Ibrani dipakai oleh Saul, Daud, Salomo dan nabi-nabi lainnya, sehingga Perjanjian Lama untuk sebagian besar ditulis dalam bahasa ini. Bahasa Ibrani (atau dikenal sebagai bahasa Ibrani klasik) bertahan sebagai bahasa resmi kerajaan Israel sampai jatuhnya Yerusalem tahun 587 sM.
Sementara itu, bahasa Aram berkembang pesat ketika orang-orang Asyiria menguasai kembali Mesopotamia (883-606 sM) dan akhirnya bahasa Aram menjadi bahasa resmi kerajaan. Keadaan ini semakin kuat di kalangan orang-orang Babel (606-539 sM) dan kelak di kalangan Persia (539-333 sM). Pada zaman ini bahasa Aram terus mendesak bahasa Ibrani sampai zaman Yesus, khususnya di wilayah Galilea, Samaria dan daerah-daerah sekitarnya.  Pada zaman itu bahasa Aram tersebar  luas sebagai “lingua franca” di wilayah Timur, sedangkan bahasa Yunani dipakai sebagai “lingua franca” di wilayah Barat. Sementara itu bahasa Ibrani membeku sebagai “bahasa suci” di Bait Allah dan sinagoge-sinagoge Yahudi.
Kendati secara praktis bahasa Aram berbeda dengan bahasa Ibrani klasik, tetapi pada zaman Yesus bahasa Aram disebut juga sebagai bahasa Ibrani. Hal ini tampak pada catatan-catatan Perjanjian Baru, yang menyebut kata-kata Aram seperti: Gabbatha (Yohanes 19:13) sebagai bahasa Ibrani juga. Begitu pula, sejarahwan Yahudi Flavius Yosephus memberitahukan kepada kita bahwa ia menulis bukunya The Jewish War dalam “bahasa Ibrani”, meskipun kenyataannya ia menulis “dalam dialek Ibrani”, yaitu bahasa Aram. Karena pada zaman itu bahasa Aram, kendatipun dibedakan dari bahasa Ibrani sebagai “bahasa kekusasteraan rabbinis” (yang biasa disebut juga bahasa Ibrani Mishnah), tetapi bahasa Aram hanya dianggap sebagai dialek bahasa Ibrani tutur Galilea. Karena itu, Petrus dikenali karena dialek bahasanya (Matius 26:73).

Bahasa Ibrani, Aram maupun Yunani dijumpai bersama-sama di wilayah Israel pada abad pertama Masehi. Penemuan inskripsi-inskripsi kuno (graffiti, monogram dan simbol) di bekas sinagoge Kapernaum yang ditulis dalam bahasa Ibrani Aram, Paleo-estrangelo Syriac, Yunani, bahkan Latin membuktikan dunia multi-etnik dan multi-lingual Yesus  Kristus. Lebih-lebih lagi, jelas sekali dalam Injil Yohanes 19:19 dicatat bahwa inksripsi di atas kayu salib Yesus dicatat dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Untuk pembaca bisa membayangkan, selain teks asli Yunani, di bawah ini dapat kita ikuti rekonstruksi bunyi inskripsi itu dalam Ibrani (baik Ibrani Mishnah maupun Ibrani tutur, entah mana yang tercantum pada waktu itu), dan juga dalam bahasa Latin:

    * Iesous ho Nasoraios ho Basileos ton Ioudaion (bahasa Yunani).
    * Yeshua ha Natseri Melak ha-Yehudim (bahasa Ibrani Mishnah).

    * Yeshua Natsraya Malka da yhudeim  (bahasa Aram/Syriac).

    *  Iesus Nazarenus Rex Yudaerum  (bahasa Latin).

 
Kalau begitu, bagaimana mengucapkan nama Sang Juru Selamat yang sah? Yeshua, Iesous atau Iesus/Yesus? Jawabnya, semua sah-sah saja, karena semua bahasa itu hidup pada zaman-Nya.  Jadi, dalam bahasa Aram inilah Yesus berbicara sehari-hari dan mengajar murid-muridnya, begitu juga ketika dikatakan bahwa Yesus bebicara dengan Paulus dalam bahasa Ibrani (Kisah 26:14), kemungkinan besar dalam bahasa Ibrani tutur Galilea atau Aram. Tetapi ketika membaca Taurat dan Kitab Nabi-nabi di sinagoge, pasti Yesus mendaraskannya dalam bahasa Ibrani (Lukas 4:18-20). Tetapi mungkin juga Yesus juga berbicara dalam bahasa Yunani, misalnya dalam perca-kapannya dengan seorang perwira di Kapernaum (Lukas 7:1-10).
Pertanyaan penting sekarang, mengapa hanya bahasa Ibrani saja yang mereka ajukan, bahkan mau mereka mutlakkan? Perlu dicatat, bahwa bahasa Ibrani sekarang adalah bentuk modern dari bahasa Ibrani mishnaik. Mengapa tidak merekontruksi juga bahasa Ibrani dialek tutur Galilea yang dipakai Yesus sehari-hari, atau lebih dikenal dengan bahasa Aram? Semua usaha merekonstruksi “the original language of Jesus” itu patut kita hormati, dengan catatan tanpa harus mempertentangkannya dengan “the original texts of the New Testament”, me-lainkan mengiringi, memperdalam dan memperjelas konteks Ibrani dan Aram dari Perjanjian Baru yang kita terima dan kita warisi dalam bahasa Yunani itu.
6. Mengenai Penemuan Laut Mati
    (The Dead Sea Scrolls)
Salah seorang penanggap juga mengajukan fakta, bahwa fragmen-fragmen Kitab Yunus, Nahum, Habakuk, Zefanya dan Zakariya yang ditemukan di Laut Mati (Qumran) juga memuat tetagramaton YHWH (antara tahun 50 sM sampai 50 M). Hal itu memang benar, tetapi jangan berhenti pada fakta ini. Sebab dari ribuan naskah Qumran yang ditemukan, tidak semua ditulis dalam bahasa Ibrani. Sebagian yang lain, misalnya sejumlah tafsiran Kitab Suci, juga tertulis dalam bahasa Aram. Dan bersama dengan penemuan naskah-naskah Perjanjian Lama Yunani yang memuat tetagramaton, puluhan naskah berbahasa Aram dari Laut Mati menerjemahkan YHWH dengan Mar  (bandingkan: seruan liturgis tertua: Maranatha, “Tuhan kami datanglah!”, yang diterapkan bagi Kristus).
“Futhermore, Qumran evidences the use of the term “Lord” (Mara) for YHWH, the            tetagrammaton. This suggests that the origin of the Church’s use of the term “Lord” for        Christ is not to be found in the Hellenistic environment,  but in the original Hebrew                 “church”, as it was a feature of Jewish sectarianism before Christianity” (James H.             Charles Worth, ed., Jesus and The Dead Sea Scrolls, New York, 1992,  p. 304).
Lagi pula, tidak semua ibadah sinagoge dan Bait Allah dipanjatkan dalam bahasa Ibrani klasik. Pembacaan TENAKH (Perjanjian Lama) memang dalam bahasa Ibrani klasik, begitu juga doa seperti Syemoneh Esrei  (Delapan Belas Berkat), tetapi sebagian lainnya dalam bahasa Aram, misalnya doa Qadisy yang terkenal itu (Th. Philips, ed., Sefer Tehilat makol hash shanah. New York, tanpa tahun, p. 722). Dibuktikan pula, doa Qadisy ini ternyata melatarbelakangi pengajaran Yesus mengenai Doa Bapa Kami, yang melaluinya Sayidina al-Masih sendiri telah memperdalam doa Yahudi tersebut, dan merefleksikannya kembali dalam terang kedatangan-Nya sebagai Sang Mesiah.
Berdasarkan penemuan Qumran pula, keragu-raguan terhadap teks Yunani juga tidak terlalu beralasan. Naskah-naskah Yunani juga ditemukan di Gua 7 Qumran, dan salah satu dari naskah-naskah tersebut fragmen Injil Markus 6:52-53 dan 1 Timotius 3:16, 4:3 (Carsten Peter Thiede dan Matthew D’ancona, The Jesus Papyrus (London, 1997), pp. 163–164). Bukti baru ini menunjukkan bahwa teori selama ini yang menentukan penulisan Injil Markus setelah tahun 60 akan gugur. Sebab menurut kesaksian sejarahwan Yahudi, Flavius Yosephus dalam Antiquities of The Jews, bahwa komunitas kaum Essene yang mendiami wadi Qumran berakhir akibat serangan militer Roma pada tahun 68 M.

Kemungkinan naskah-naskah itu dibawa oleh orang-orang Kristen Yerusalem yang mengungsi setelah pecah perang Yahudi tahun 66 M. Konsektuensi logis dari temuan ini, Injil Markus harus ditulis pada masa yang lebih awal lagi, dan Injil yang ditulis oleh murid Petrus di Roma ini memang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani. Jadi, tidaklah berasalan meragu-ragukan teks Yunani, sementara tidak pernah ada manuskrip dalam bahasa lain yang secara kritik teks dibuktikan lebih tua dari manuskrip Yunai tersebut. Tidak pula beralasan mempertentangan bahasa Ibrani dengan Yunani, bahkan terlalu naïf pula sampai mengkotak-kotakkan, Yahweh  sebagai sembahan Yahudi-Kristen, Kyrios dewa kafir Yunani, dan Allah  dewa kafir orang Arab,  sebagaimana  yang saya kemukakan pada awal artikel ini.
7. Asal-usul YHWH dan Allah
                Dalam artikel “Menjawab Hujatan Para Penentang Allah”, sudah saya buktikan bahwa sebagaimana Allah pra-Islam pernah dimaknai secara pagan, begitu juga nama Yahwe juga pernah dipuja bersama-sama dewi kesuburan, Asyera. Lalu saya tekankan, kalau istilah Allah ditolak karena alasan bahwa kata itu pernah dimaknai secara pagan, apakah karena alasan yang sama Yahwe juga kita tolak?
                Tetapi seorang penanggap merasa dapat mematahkan argumentasi saya. Menurutnya, kedua kasus itu berbeda. Alasannya, karena kalau umat Yahudi dan Kristen di Arab, dan kemudian Islam, akhirnya memurnikan kata Allah yang sebelumnya bermakna pagan, sebaliknya Yahwe mula-mula dipahami secara monoteis lalu dislewengkan kemudian menjadi pagan. Ditekankannya pula, bahwa Yahwe tidak baru muncul zaman Nabi Musa, melainkan nama itu sudah mulai disebut sejak zaman Enos (Kejadian 4:26).

                Para ahli telah membuktikan secara liguistik kesejajaran istilah ehyeh, Yah, Yahweh dalam bahasa Ibrani dengan Ayya (dewa Akkadia purba),  Yaw, Yehaw, Yehi (dewa pagan Byblos), dan yahwa, yiha (nama-nama tempat yang bisa diidentifikasikan dengan nama-nama dewa menurut inskripsi-inskripsi Mesir kuno: Soleb, ‘Amara dan Medinet Habu, dekat Luxor), yang sebagian justru berasal dari masa pra-biblikal (lih. Gwendolyn Leick, A Dictionary of Ancient Near Eastern Mithology, London, 1996; James B. Prichard, ed., The Ancient Near East: An Anthology of Texts and Picture, 1958; Barry J. Beitzel, “Exodus 3:14 and The Divine Name: A Case of Biblical Paronomasia”, dimuat dalam Trinity Journal, 1980, pp. 5-20).

                Tetapi bagi saya,  bukan terletak disitu masalahnya. Mengapa? Pijakan penyanggah yang mensyaratkan pengujian umur inskripsi-inskripsi segala itu, disebabkan karena anggapannya bahwa YHWH maupun Allah adalah nama diri yang tidak bisa diterjemahkan, sehingga perlu untuk membuktikan siapakah yang berhak atas hak cipta “the proper name”  itu. Sedangkan bagi saya, yang terpenting adalah makna teologis di balik istilah-istilah tersebut, yang semuanya diambil dari bahasa-bahasa manusia. Maksud saya, bagaimana kita memahami Sang Pencipta yang tidak terbatas itu, di balik nama, rumusan dan deskripsi bahasa-bahasa manusia yang serba terbatas.

                Dalam pada itu, baik dewa-dewa di Babel, Byblos, Mesir, Kanaan, Mekkah atau Yunani maupun Tuhan yang memperkenalkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dirumuskan dalam bahasa-bahasa yang sama. Bahasa dunia, dan bukan dalam bahasa surga. Tidak ada perbedaan, misalnya, bahasa Arab itu bahasanya thuyul, bahasa Yunani itu bahasa dhemit, dan bahasa Ibrani itu bahasanya malaikat. Dan karena “gundul”-nya orang Ibrani, Aram dan Arab itu memang mirip satu sama lain, karena mereka berasal dari kakek moyang yang sama, sudah barang tentu banyak dijumpai istilah-istilah yang berasal dari akar kata yang sama. Itulah sebabnya el, eloah, alohim (Ibrani) mirip dengan ilah, allah dan allahumma (Arab). Mengapa? Karena semuanya termasuk dalam bahasa-bahasa semitik.

                Begitu juga kemiripan dalam rumpun bahasa-bahasa lain, seperti dewa (Sanskrit), deo (Latin), theos (Yunani). Tapi mana ada orang Kristen yang mengatakan bahwa Gloria in exelsis Deo sama dengan Gloria in exelsis “Dewa”? Tidak ada! Karena meskipun secara linguistik bisa dilacak keserumpunan antara kata Dei, Deus dan Dewa, tetapi secara teologis makna yang diberikan atas kata-kata yang serumpun itu berbeda. Karena itu, yang penting bagi kita bukan memutlakkan huruf-hurufnya, melainkan beranjak lebih dalam untuk memahami makna di balik huruf-huruf yang mati itu.  Apakah yang harus kita pahami dari pernyataan ilahi di balik Nama YHWH, dan bukan mengagungkan aksara-aksaranya. Sekali lagi, bahasa itu netral, tergantung siapa yang memaknai.

                Selanjutnya menanggapi tafsiran harfiah penanggap, kalau nama YHWH itu sudah disebut sejak zaman Enos.  YHWH itu bahasa Ibrani. Kalau begitu, apakah pada zaman Enos bahasa Ibrani sudah ada? Kalau belum, bahasa apakah yang dipakai pada zaman Enos? Sebab diantara bahasa-bahasa rumpun semitik saja, bahasa Ibrani bukan bahasa yang paling tua, apalagi Enos ada jauh sebelum Sem putra Nuh, yang melalui keturunannya kita warisi “bahasa-bahasa semitik” (istilah semitik/samiyyah dikaitkan dengan bahasa-bahasa yang dihubungkan dengan keturunan Sem). Karena itu, kita tidak akan menjumpai bukti arkheologis bahwa pada zaman Enos ada sebuah prasasti yang menyebut nama Ibrani YHWH  untuk Sang Pencipta langit dan bumi.

                Jadi, apakah makna Kejadian 4:26, “….waktu itulah orang-orang mulai memanggil nama TUHAN (YHWH)”? Sedangkan menurut Keluaran 6:2, Sang Pencipta menyatakan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub dengan nama El Shadai (El Yang Maha Kuasa), “….tetapi dengan Nama-Ku TUHAN (YHWH) Aku belum menyatakan diri”. Mengenai Keluaran 6:2 ini, terlalu mudah untuk kita menemukan bukti-bukti arkheologis nama YHWH pada zaman Musa. Tetapi mengatakan bahwa nama itu sudah ada dan dipuja pada zaman Enos,  tentu saja sangat sulit dibuktikan. 

                Lalu apakah Kejadian 4:26 tersebut salah? Tidak, tetapi tafsiran harfiah penanggaplah yang salah. Mengapa? Kita tahu, bahwa penulisan Taurat dihubungkan dengan peranan besar Musa dan zaman sesudahnya. Nah, secara teologis Musa menekankan pentingnya mengenal Sang Pencipta melalui Nama YHWH, yang menekankan kehadiran Dia Yang Mahaada.  Karena itu, bukan berarti huruf-huruf YHWH itu sudah ada pada zaman Enos, tetapi pengertian teologis mengenai Sang Pencipta Yang Mahaada dan Mahahidup, seperti yang terkandung dalam nama YHWH itulah, yang sudah dikenal manusia sejak awal sejarahnya yang paling dini, meskipun mungkin dalam bahasa lain.

                Hal ini bisa dibandingkan dengan istilah Allah. Sebagaimana nama YHWH,  teori bahwa kata Allah sebagai nama diri yang tidak bisa diterjemahkan, juga lebih dilatarbelakangi suatu keyakinan teologis, ketimbang dibuktikan dari segi historis. Beberapa penulis Muslim yang menganut pandangan ini, menekankan bahwa ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an itu dite-rima apa adanya dalam  bahasa Arab,  misalnya:

       Innani ana Allahu Laa ilaha illa Ana… Artinya: “Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada        ilah selain Aku…” (al-Qur’an, .surah Thaha/20 ayat 14). 

                Perlu dipertanyakan, apakah Musa berbicara dalam bahasa Arab, dan menyebut Tuhan sebagai Allah?  Tentu saja tidak! Tetapi semua wacana Tuhan dengan nabi-nabi pra-Islam, bahkan juga kepada Adam, Idris (Henokh), Nuh, yang kita tidak tahu apa bahasa mereka, semuanya dituliskan al-Qur’an dalam bahasa Arab. Mengapa? Karena Nabi Muhammad dalam keyakinan Islam menerima wahyu dari Tuhan dalam bahasa Arab.        

                Begitu pula dengan nama YHWH  sebelum Musa, tidak harus dipahami secara harfiah seperti itu. Bahkan dalil ini juga berlaku setelah kedatangan Yesus, yang kita yakini sebagai penggenapan  semua nubuat Perjanjian Lama. Salah seorang penanggap mengajukan laporan dari The Japan Times, 27 Februari 2003, mengenai umat Kristen Assyria di Mosul (Niniwe) yang sampai hari ini masih mempertahankan bahasa Yesus (Syriac/Aramaic), lalu menghubung-kannya dengan nama YHWH. Perlu saya sampaikan kepada seluruh pembaca, bahwa melalui Institute for Syriac Christian Studies  (ISCS), lembaga kajian yang saya dirikan,  bidang kajian kami adalah gereja-gereja yang mempertahankan bahasa Yesus ini dalam liturgi, termasuk Gereja Assyria Timur yang disinggung dalam koran  itu.

                Perlu diketahui pula, bahwa Syriac/Aramaic Christianity itu dibagi dalam 2 kelompok: Pertama, gereja-gereja yang memakai bahasa Aram dialek Barat (Gereja Ortodoks Syria, Gereja Katolik Syria, Gereja Maronit Lebanon), dan; Kedua, gereja-gereja yang memakai bahasa Aram dialek Timur (Gereja Assyria Timur dan Gereja Katolik Khaldea). Disamping itu, kedua dialek tersebut juga dipakai di beberapa cabang gereja rumpun Syria di India Selatan. Nah, Alkitab yang mereka pakai adalah Peshitta (Peshitto). Masalahnya, dalam Peshitta sendiri YHWH diterjemah-kan menjadi Mar, Marya (TUHAN). Sekedar contoh, cukuplah saya kutipkan Markus 12:29 menurut Peshitta dialek Timur/Assyria:

                Syma’ Yisrael, Marya Alahan Marya had hu. “Dengarlah, wahai Israel, Marya (TUHAN) itu    alah (ilah) kita, Marya (TUHAN) itu Esa” (Peshitta Qyama Hadatta ha Ktaba Dadyateqa       Hadatta (Yerusalem: The Bible Society on Israel and the Aramaic Scriptures Research                 Society in Israel, 1986)

                Memang, ada klaim Gereja Assyria bahwa Perjanjian Baru aslinya dituliskan dalam bahasa Aram (dan bukan Ibrani klasik). Tetapi klaim tersebut tidak semua bisa dibuktikan berdasarkan penemuan manuskrip-manuskrip asli, seperti yang berlaku pada ribuan manuskrip Yunani. Kajian berdasarkan kritik bentuk dari teks-teks Yunani bisa menolong, tetapi mungkin hanya berlaku untuk Injil Matius yang mula-mula ditulis dalam bahasa Aram, seperti kesaksian para bapa Gereja kuno.
8. Sekilas YHWH dalam Alkitab bahasa Inggris

                Terakhir, berikut ini tambahan keterangan mengenai sejarah pengucapan YHWH, dan bagaimana beberapa Alkitab berbahasa Inggris mencantumkan nama yang sudah lama ditabu-kan pengucapannya oleh umat Yahudi itu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa sejak tetagra-mmaton itu tidak diucapkan, melainkan dibaca dengan kata lain: Adonai (Tuhan) atau Ha Syem (Sang Nama),  pembacaan yang sebenarnya dari YHWH  itu tidak diketahui lagi, sampai abad ke-16 Masehi para ahli mulai mengemukakan berbagai teori.

                Tetagrammaton pertama kali tercantum dalam Alkitab bahasa Inggris karya William Tyndale (1525). Tyndale membaca IeHoVaH (Konsonan YHWH dibaca dengan vocal atau huruf-huruf hidup: AdOnAy). Pola ini diikuti kemudian oleh Miles Coverdale’s (1535), The Great Bible (1539), The Geneva Bible (1560), The Bishop’s Bible (1568) dan The Authorized Version edisi 1611, yang meskipun secara umum memakai terjemahan The LORD, tetapi mencantumkan IeHoVaH di beberapa tempat.  Selanjutnya. spelling JEHOVAH baru muncul dalam King James Version edisi tahun 1762-1769.

                Sedangkan bacaan Yahweh baru muncul pada awal atau pertengahan abad ke-19 Masehi, berdasarkan rekonstruksi para pakar biblika. Pengucapan Yahweh tersebut, antara lain didasarkan atas beberapa transkripsi teks Yunani atas kata Ibrani tersebut: IAOUE, IAOUAI, dan IABE yang berasal dari sekitar abad pertama sebelum dan sesudah Masehi. Karya Klement dari Iskandariya, Stromata, dan keterangan sejarahwan Yahudi Flavius Josephus mengenai bacaan tetagrammaton, juga dijadikan acuan. Bacaan manakah yang benar? Belum ada kepastian sampai sekarang. Pelafalan YAHWEH  mungkin didukung oleh penggalan kata ini pada ungkapan Halelu-Yah  (Pujilah Yah), sebaliknya lafal Jehovah  mungkin juga bisa dilacak dari nama-nama diri seperti Yeho-ram, Yeho-shafat, Yeho-shua, dan sebagainya.

                Patut dicatat, baik Josephus maupun Klement dari Iskandariya, ketika membahas bacaan tetagrammaton tersebut, mereka tidak bermaksud mempertahankan huruf-huruf itu, tetapi lebih karena usaha kajian ilmiah. Begitu juga saya kira, beberapa terjemahan Inggris yang mencan-tumkan nama  Ibrani itu. Jadi sangat berbeda dengan gerakan Yahweh baru-baru ini, atau sekte Saksi-saksi Yehuwa yang muncul sebelum itu. Masalahnya sekarang, apakah gerakan Yahwe itu sudah merasa menemukan bacaan yang benar-benar pas, sesuai dengan aslinya ketika nama tersebut diperkenalkan pada zaman Nabi Musa?

                Dan yang lebih penting lagi, secara teologis patut dipertanyakan: Kalau memang benar, “nama ilahi” itu, -- sesuai dengan tafsiran harfiah para pemujanya, -- benar-benar dikehendaki Sang Pencipta, mengapa TUHAN membiarkan “nama”-Nya hilang dari sejarah, dan muncul kembali hanya dalam bacaan kira-kira? Selanjutnya, kaitan pemeliharaan “nama itu” dalam Perjanjian Baru, patut pula dipertanyakan. Menanggapi asumsi mereka bahwa teks asli Perjanjian Baru berbahasa Ibrani telah hilang, mengapa Sang Pencipta tidak menjaga “Kitab Suci”-Nya sendiri, dan membiarkan tangan-tangan nakal manusia menggerayangi teks-teks suci yang memuat “nama” itu, yang semestinya dijaga sampai akhir zaman? Sebab sampai sekarang, “teks asli Ibrani Perjanjian Baru” itu memang tidak pernah ada, kecuali hanya dalam pikiran orang-orang yang sedang mengigau di tidur siang mereka.
9. Cacatan Penutup

                Karena itu, saya mengajak seluruh saudara-saudara seiman dimana saja berada, tidak perlu kita menghabiskan energi untuk menanggapi gerakan mereka. Sebab bagi kita, yang penting bukan mempertahankan huruf-huruf dari nama ilahi YHWH  itu, melainkan apa makna penyataan Allah yang berfirman melalui media bahasa. “Nama” dalam pemikiran Ibrani menunjuk kepada “Kuasa di balik Dia Yang Dinamakan”. Jadi, yang penting adalah Pribadi Agung Sang Pencipta, sebagaimana diungkapan dalam doa Yahudi “Adon ha-‘Olam”, yang merujuk kepada makna tetagrammaton:

                We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah  (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang     akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selamanya). Lih. Rabbi Nossom Scherman/Rabbi       Meir Zlotowijz (ed.), Humasy Humasiy Torah ‘im Targum Onqelos Farasiy Haftarot we                 Humash Megilot. Hebrew-Aramaic-English (New York, 1996),  p. 304.

                Jadi, apakah yang hendak diungkapkan Sang Pencipta dengan menyebut diri-Nya dalam bahasa manusia yang terbatas itu sebagai YHWH?  Saya ulangi tulisan saya terdahulu, YHWH terkait dengan akar kata ywh (ada, hidup). Maknanya, TUHAN itu Mahaada dan Mahahidup. Dan adanya TUHAN sudah barang tentu itu tidak sama dengan adanya ciptaan yang terbatas. Karena itu, dengan nama YHWH  tersebut, Sang Pencipta memperkenalkan diri-Nya: hayah (He was, “Dia yang sudah ada”), howeh (He is, “Dia yang kini ada”), dan yihyeh (He will be, “Dia yang akan ada”).

                Doa Yahudi itulah yang melatarbelakangi Wahyu 1:8, yang berbunyi: “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang. Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8). Allah Yang Mahaada, mahahidup dan selalu menolong umat-Nya. Kita percaya bahwa Pribadi Agung itu telah menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, Firman Allah Yang Hidup (1 Yohanes 1:1). Dengan nuzul Firman-Nya, Allah yang tidak terbatas masuk dalam dimensi ruang dan waktu, mengambil keterbatasan kita, agar kita “boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Petrus 1:4) yang tidak terbatas itu. Padahal TUHAN mengatasi segala keterbatasan kita, termasuk keterbatasan huruf-huruf dan bahasa manusia. Akhirul kalam, dari Kairo “kota seribu menara” ini, izinkanlah saya mengucapkan: “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Kullu ‘Aam wa Antum bi khayr . ***

 

Dar Comboni Institute, Cairo, 26 Desember 2004.

Penulis : Bambang Noorsena,SH,MA,DEA

 
< Prev   Next >